31 Oktober, 2009

Menembus Kampung Mabusa, Wilayah Terpencil di Lutra (2-Selesai)

Punya Banyak Potensi, Warga Masih Gunakan Sistem Barter

Tiga kecamatan terpencil di Luwu Utara; Limbong, Seko dan Rampi adalah
kecamatan yang memiliki potensi Hotikutura yang luar biasa. Sayang,
potensi itu terhalang oleh akses jalan yang jelek.



EKA NUGRAHA
Limbong

Ada banyak hal yang menarik pemerintah kabupaten Luwu Utara untuk
terus membuka akses jalan menuju tiga kecamatan terpencil itu. Selain
untuk mengatasi keterisolirnya penduduk di tiga kecamatan tersebut,
ternyata ketiga kecamatan itu memiliki potensi alam yang sangat luar
biasa.

Kecamatan Limbong adalah salah satu kecamatan yang ditetapkan sebagai
sentra hotikultura di Luwu Utara. Beragam jenis sayuran tumbuh di Tana
Masakke -- tanah yang dingin-- tersebut. Mulai dari tanaman kol,
wortel sampai buah apel juga tumbuh di tanah tersebut.

Selain itu, kecamatan yang memiliki jumlah penduduk sekira 400 kepala
keluarga tersebut juga memiliki potensi peternakan dan perikanan.
Salah satu peternakan andalan adalah sapi dan kuda. Sedangkan untuk
sektor perikanan, warga Limbong banyak memelihara ikan karper.

"Semua produksi hotikultura disini tidak dipupuk. Tanaman itu tumbuh
dengan sendirinya. yang kami lakukan hanya mendatangkan bibitnya,"
kata Camat Limbong Alam K A Parenrengi.

Lain halnya dengan di Seko, informasi yang dihimpun Fajar, di
kecamatan Seko terdapat peternakan rusa. komoditi andalan kecamatan
ini adalah dendeng rusa.

"Di Seko juga banyak potensinya, kebanyakan potensi peternakan," jelas Alam.

Sayang, karena akses jalan yang tidak memadai, semua potensi itu
kemudian tidak dapat dinikmati oleh banyak orang. Bahkan, kata Alam,
hampir setiap bulan, ada saja sayuran yang terbuang sia-sia karena
busuk.

Alam mengatakan, beberapa tahun silam, warga kecamatan Limbong masih
menggunakan sistem barter untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Hal
itu dilakukan karena saat itu, Limbong belum memiliki pasar.

"Sekarang sudah ada pasar rakyat, itu pun warga masih ada yang
melakukan sistem barter untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya,"
jelas Alam.

Lalu bagaimana untuk mengatasi kebutuhan sekunder lainnya? Alam
mengatakan, warga terpaksa menggunakan kendaraan roda dua yang
dimodifikasi sedemikian rupa untuk mengangkut kebutuhan tersebut.
Selain kendaraan roda dua, warga juga terkadang menggunakan tenaga
kuda untuk mengangkut barang.

Semantara itu, Bupati Luwu Utara, Luthfi A Mutty disela-sela
kunjungannya mengatakan poros jalan Sabbang-seko ditargetkan selesai
2012 mendatang. Jalanan ini nantinya juga akan menghubungkan kabupaten
Luwu Utara dengan provinsi Sulawesi Barat. Sehingga, produksi
Hotikultura di kecamatan Limbong tidak terbuang sia-sia.

"Saya sudah berbincang sama sejumlah warga, ternyata hasil produksi
itu di jual ke Seko. Mudah-mudahan jika akses jalan sudah baik, hasil
hotikultura itu bisa dijual ke Masamba," jelas Luthfi.(**)

28 Oktober, 2009

Menembus Kampung Mabusa, Wilayah Terpencil di Lutra (1)

Jalan Antarprovinsi Terjelek di Sulawesi Selatan

Kampung Mabusa, kampung terjauh di kecamatan dikecamatan Limbong, Kabupaten Luwu Utara. Tidak mudah untuk menembus salah satu kampung terpencil ini di Luwu Utara ini.



E
KA NUGRAHA
Limbong

FAJAR
Edisi Selasa, 27 Oktober


Meski waktu sudah menunjukkan pukul 13.00, rasa dingin masih menusuk di kulit penulis saat berkunjung di kecamatan Limbong, kabupaten Luwu Utara, Sabtu 24 Oktober lalu. Maklum, wilayah ini berada diketinggian sekira 1.444 meter diatas permukaan laut (Mdpl). Jangan heran, jika kecamatan ini juga dikenal dengan istilah Tana Masakke ---Dalam bahasa Luwu artinya, wilayah yang dingin.

Kecamatan Limbong terletak sekira 66 kilometer arah Barat Laut kota Masamba, Kabupaten Luwu Utara. Jaraknya yang relatif jauh dan kondisi medannya yang sulit menyebabkan kecamatan ini menjadi salah satu dari tiga kecamatan yang terisolir di Lutra (Setelah Limbong masih ada kecamatan Seko dan Rampi).

Sejak 2001 lalu, pemerintah provinsi Sulawesi Selatan bekerjasama dengan Pemkab Lutra mulai membuka akses jalan Sabbang-Rampi untuk mengatasi keterisolirnya tiga kecamatan terpencil ini. Sayang, sampai sekarang akses jalan itu baru sampai pada kampung Mabusa, wilayah terjauh dikecamatan Limbong.

Bersama dengan rombongan Bupati Lutra, M Luthfi A Mutty, penulis ikut menyusuri jalan menuju kampung Mabusa itu. Tidak banyak kendaraan yang bisa melalui jalan ini. Untuk kendaraan roda empat, sebaiknya kendaraan itu memiliki kapasitas four whell drive (4WD). Jika tidak, jangan berharap banyak untuk dapat menembus kampung yang berbatasan dengan kecamatan Seko tersebut.

"Kalau cuma mobil biasa, sebaiknya tidak usah kesana, pasti tidak akan sampai ditujuan," kata Camat Limbong, Alam K A Parenrengi.

Memang benar kata Alam, akses jalan sepanjang sekira 22 kilometer menuju kampung itu sangat sulit. Medan yang terjal dan berlumpur tentunya dapat membuat kendaraan bermotor kewalahan.

Dalam perjalanan ke Mabusa, beberapa kali penulis mendengar suara gardan yang kandas dengan tanah atau suara benturan bumper belakang mobil tumpangan penulis (penulis saat itu menumpang mobil jenis duoble Cabin). Selain itu, bau menyengat yang diperkirakan akibat gesekan kampas kopling mobil juga tercium saat mobil sudah benar-benar kandas didalam lumpur.

Bahkan Bupati Luwu Utara, Luhti A Mutty mengklaim jika poros kecamatan Sabbang ke kampung Mabusa adalah jalan terburuk di Sulawesi Selatan.

"Inilah jalan yang terburuk di Sulawesi Selatan," kata Luthfi disela-sela kunjungannya ke kampung Mabusa.(**)

26 Oktober, 2009

Dari Kedatangan MS Bremen ke Pelabuhan Tanjung Ringgit

Kota Palopo, Gerbang Baru Wisata Internasional

Kota Palopo, selain merupakan kota yang terkenal dengan kebudayaannya, wilayah ini ternyata juga merupakan gerbang menuju wisata taraf internasional, Tana Toraja.

EKA NUGRAHA

Palopo

Jarum jam baru menunjukkan pukul 07:15 Wita. Pelabuhan Tanjung Ringgit kota Palopo tampak dipadati puluhan warga kota Palopo, Jumat 16 oktober kamarin. Matanya mengarah kepada sebuah kapal berwarna putih yang menuju kepelabuhan itu. Selang beberapa menit kemudian kapal itu akhirnya sandar juga.

Itulah kapal pesiar bernama MS Bremen. Kapal dengan bobot 6.752 kilogram dengan pangjang 101 meter tersebut mengangkut 150 wisatawan asing asal jerman yang akan melakukan kunjungan budaya di kota Palopo dan Toraja. Ke 150 Wisman itu terdiri atas wisatwan asal Austria, Belgia, Norwegia, jerman dan Swietzland.

Sebuah tarian khas kota Palopo bernama Tari Paduppa yang dibawakan oleh sejumlah gadis kota Palopo menyambut kedatangan wisatawan asing tersebut. Tarian ini melambangkan ucapan selamat datang di pusat pemerintahan kerajaan Luwu tersebut.

Wisatawan asing yang dipimpin oleh kapten kapal MS Bremen, Michael tersebut diterima langsung oleh Walikota Palopo, HPA Tenriadjeng. Usai acara penerimaan tersebut, puluhan Wisman mulai melangkah ke mobil Bus yang telah disediakan oleh Pemkot Palopo dan Pemkab Toraja. Mereka pun mulai melakukan kunjungan disejumlah lokasi budaya di Palopo. Lokasi budaya yang dimaksud adalah Istana kerajaan Luwu, lokasi pemakaman raja luwu, dan masjid jami tua kota Palopo.

Selain itu, wisman ini juga disuguhi bermacam kebudayaan di kota Palopo. Salahsatunya adalah ikon kampung budaya di Palopo. Kampung tersebut terletak di desa Peta, kecamatan Sendana.

"Ini adalah program kampung budaya kita yang baru," kata walikota Palopo, HPA Tenriadjeng saat ditemui disela-sela penerimaan Wisatawan itu.

Tenriadjeng mengatakan, kota Palopo adalah salah satu gerbang wisata internasional. Menurutnya, bagi wisatawan yang akan menuju ke Tana Toraja melalui jalur laut, tentunya akan lebih efektif dan efesien jika transit di kota Palopo. Selain jarak yang dekat, para wisatawan juga akan disuguhi kebudayaan Palopo yang tidak kalah menariknya.

Dia menambahkan, kemungkinan tahun depan sebuah kapal pesiar asing akan kembali berkunjung di Palopo. Kapal ini dikabarkan aan lebih besar dari MS Bremen.

"Tahun depan, dia akan berkunjung ke Palopo, bentuknya lebih besar, tapi saya belum tahu pasti namanya," jelas Tenriadjeng.

Sementara itu, wakil ketua sementara DPRD Palopo, Irwan Hamid mengatakan, potensi wisata di kota Palopo memang sangat luar biasa. Menurutnya, kedepan, Palopo tidak hanya menjadi wilayah transit saja melainkan juga wilayah tujuan wisatawan asing.

"Kalau bisa bukan hanya wilayah transit saja, melainkan tempat tujuan wisatawan asing," jelas Irwan.(**)

12 Oktober, 2009

Kisah Hidup Imam Masjid Jami Tua Kota Palopo

Setengah Abad Lebih Mengabdi untuk Islam
"Tuhan selalu memberikan berkah kepada ummat-Nya yang cinta kepada-Nya,"

EKA NUGRAHA
Palopo

Sepenggal kalimat itu mengalir dari mulut Abdul Latief Al Muscati, seorang imam masjid Jami tua di Palopo, Selasa 14 September. Meski agak terbata-bata, pria paruh baya ini masih tampak semangat menceritakan perjuangan hidupnya menjadi seorang imam masjid tertua di Palopo.

Hampir semua jemaah masjid Jami (masjid tertua) di Palopo mengenal sosok keturunan Arab ini. Pasalnya, sejak tahun 1978, pria ini sudah mulai ada di masjid itu. Awalnya, dia hanya bertugas untuk membersihkan masjid paling bersejarah di Sulawesi Selatan itu.

"Awalnya, saya hanya membantu membersihkan Masjid, terus jadi guru mengaji, sampai sekarang jadi imam Masjid," jelas Abdul Latief.

Seperti dengan nama belakangnya; Al Muscati. Abdul Latief adalah salah seorang keturunan Arab yang bermukim di Palopo. Bahkan menurutnya, dia mengaku adalah keturunan cucu dari salah seorang penyebar Syiar Islam terkenal di Palopo bernama Syekh Salim Djewed.

Latief mengatakan, Syekh Salim Djewed adalah sosok penyebar islam di Palopo. Dia pernah menjadi salah satu penasehat agama pada kerajaan Luwu yang saat itu dipimpin oleh Datuk Andi Djemma.

"Tidak ada yang tidak kenal dengan nenek saya itu, apalagi orang-orang kerajaan, pasti dia mengenalnya," jelas Latief.

Latief mengaku, banyak belajar dari neneknya mengenai agama Islam. Bahkan dia pernah belajar di Pendidikan Guru Agama (PGA) selama tiga tahun. Sayang, pendidikan tersebut harus terhenti karena saat itu terjadi perang oleh laskar yang dipimpin oleh Qahhar Mudzakkar. Latief pun harus meninggalkan kota Palopo selama tiga tahun.

Usai dari sana, Latief kemudian mulai tinggal di Masjid Jami tua. Saat itu, dia dipercaya untuk membersihkan masjid dan menjadi guru mengaji. Dia mengaku mulai tinggal di masjid itu sejak tahun 1978.

Lalu, berapa upah Latief saat itu? pria paruh baya dengan janggot yang mulai memutih ini mengaku hanya diberi upah Rp 2500 per bulan. Kehidupannya hanya ditopang dengan jualannya yang tidak jauh dari Masjid itu.

"Setelah beberapa tahun, saya diangkat menjadi imam masjid," jelasnya.

Pofesi sebagai imam masjid masih dilakoni Latief sampai sekarang. Selain itu, dia juga masih mengajar mengaji dan meladeni mayat. Kadang juga dia dipanggil oleh beberapa warga sebagai juru baca doa di sebuah acara.

"Selama hidup di Masjid Jami, ada saja berkah yang diberikan Tuhan," jelasnya.

Latief menambahkan, di hari raya idulfitri ini, dia meminta kepada semua orang agar senantisa menjalin silaturahmi dengan sesama umat muslim lainnya. Selai itu rasa cintanya kepada Tuhan juga harus ditingkatkan. Menurutnya, Tuhan akan selalu memberikan berkah kepada ummatnya yang senantiasa cinta kepada-Nya.

"Saya rasakan ketenraman saat berada di masjid ini, itu adalah salah satu berkah buat saya," jelas Latief.(**)

06 Oktober, 2009

Geliat Aktivis Pemekaran Luwu Raya

Pascapelantikan, Ramai-ramai Duduki Gubernuran

Bosan menunggu janji Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo yang tak kunjung mengeluarkan rekomendasi pemekaran Luwu Tengah. Sejumlah aktivis Luwu Raya mulai menyusun strategi baru.

EKA NUGRAHA
Palopo
(Fajar Edisi 10 September 2009)

Perjuangan untuk membentuk pemekaran Luwu Tengah rupanya tidak pernah mati. Sejumlah aktivis perjuangan Luwu Tengah yang tergabung dalam Forum Pemuda Luwu Raya untuk Pembentukan Kabupaten Luwu Tengah (FPLR-PKLT) mulai melakukan langkah nonformal untuk menuju pemekaran kabupaten baru tersebut.

Rencananya, pascapelantikan anggota DPRD Sulsel, aktivis perjuangan ini akan melakukan aksi unjuk rasa ke kantor Gubernur Sulsel. Bahkan, jika tidak ada aral melintang, aksi unjuk rasa ini bakal menjadi ucapan selamat idul fitri bagi Syahrul Yasin Limpo.

"Ini sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi, kami sudah bosan menunggu janji-janji Gubernur," jelas salah satu Deklarator FPLR-PKLT, Listan Cr, Kamis 10 September kemarin.

Menurut Listan, sejauh ini FPLR-PKLT sudah melakukan konsolidasi dengan beberapa organisasi perjuangan Luwu Raya lainnya. Dari hasil konsolidasi tersebut, sejumlah aktivis menyatakan bersedia untuk menagih janji Syahrul untuk menerbitkan rekomendasi pemekaran Luwu Tengah.

Listan menambahkan, secara administratif, pembentukan kabupaten Luwu Tengah tersebut sudah lengkap. Tinggal menunggu rekomendasi dari Syahrul. Sayangnya, sejak sudah dua kali pergantian Bupati Luwu (dari Basmin Mattayang ke Bahrum Daido, lalu ke Andi Mudzakar) rekomendasi yang dijanjikan Gubernur Sulsel tak kunjung keluar.

"Sudah tidak ada jalan lain, waktunya melakukan aksi turun kejalan, supaya dia (Syahrul) bisa mendengar,"katanya.

Saat ditanya kenapa mesti pascapelantikan anggota DPRD Sulsel. Listan mengatakan, langkah tersebut dinilai tidak efektif. Menurutntya, anggota DPRD yang baru belum memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan setelah pelantikan. Oleh karena itu, FPLR-PKLT akan melakukan aksi unjuk rasa dikantor Gubernur.

"Saya pikir preasure massa pascapelantikan lebih efektif daripada saat pelantikan, liat saja nanti," jelas Listan.(**)

02 September, 2009

Sejarah Masuknya Islam di Tana Luwu

Datuk asal Minangkabau Penyebar Islam di Tana Luwu

Bersentuhan dengan sejarah Sulawesi Selatan, maka kita tidak bisa lepas dari kisah kerajaan Luwu. Kerajaan inilah yang sampai saat ini diyakini sebagai kerajaan tertua di Sulawesi Selatan.


Eka Nugraha
Malangke


Int.
Het graf van vorst Petta Matinroƫ ri Malangke van Loewoe 1941

Makam Petta Matinroƫ ri Malangke, tahun 1941



Berbagai catatan sejarah menyebutkan bahwa kira-kira pada akhir abad XV masehi pengaruh islam mulai masuk di kerajaan Luwu. Agama islam itu diketahui masuk di daerah Luwu yang dibawa oleh seorang alim Ulama asal Minangkabau. Ulama tersebut diketahui bernama; Datuk Sulaeman atau yang populer dikenal dengan nama Dato' Sulaiman.

Datuk Sulaeman yang berasal dari Minangkabau ini kemudian dikenal dengan nama Datuk Pattimang. Nama tersebut diberikan karena beliau wafat dan dimakamkan di sebuah desa bernama Pattimang. Cukup mudah untuk mengunjungi makamnya, letaknya di sebelah selatan kabupaten Lutra. Tepatnya di kecamatan Malangke, sekira 60 kilometer dari kota Masamba.

Saat saya berkunjung di tempat itu, Sabtu 29 Agustus, suasana kompleks pemakaman Datuk Sulaiman tampak sunyi. Suara masjid yang berada dalam kompleks sesekali memecah keheningan pemakaman keturunan para raja tersebut.

"Sekarang sedang sunyi nanti menjelang lebaran baru kuburan ini ramai dikunjungi," kata penjaga kompleks pemakaman Datuk Sulaiman, Andi Tamring Opu To Patonangi.

Tamring menyebutkan, Datuk Sulaiman diperkirakan datang ke Desa Pattimang sekira abad ke XV. Pada saat itu, kerajaan Luwu dipimpin oleh seorang raja bernama Andi Pattiware. Tamring mengisahkan, saat Datuk Sulaiman melakukan pendaratan pertamanya di tana Luwu, hal pertama yang dilakukannya adalah melakukan shalat di tepi sungai. Uniknya, saat melakukan shalat, seluruh pepohonan yang berada disekitar tempat itu juga mengikuti gerakan Datuk Sulaiman. Tempat itu sekarang diberi nama "Tappong aju dua e" ---Bahasa Luwu; tempat pendaratan---

"Nanti setelah shalat, baru Datuk bertemu dengan raja untuk menyampaikan niatnya menyebarkan ajaran islam," kata Tamring yang mengaku keturunan langsung dari raja Luwu ke-15 Andi Pattiware.

Niat Datuk untuk menyebarkan ajaran islam akhirnya diterima oleh Raja Pattiware. Oleh karena itu, raja menunjuk anak kandungnya yang belakangan di ketahui bernama Andi Abdullah untuk menjadi muslim pertama di tana Luwu. Setelah itu, raja pun ikut memeluk agama islam.

Penulis belum menemukan Informasi mengenai siapakah jati diri datuk yang berasal dari Minagkabau tersebut. Apakah ia berasal dari didikan dan santri dari Ranah Minang atau bukan? hal itu belum jelas.

Tamring hanya menjelaskan, mitos yang berkembang, beberapa hari setelah meninggalnya Datuk Sulaiman itu, sebuah suara aneh muncul. Suara itu menyebutkan kalau datuk tersebut ternyata adalah keturunan Arab Saudi. Namun, ada juga segelintir informasi kalau Datuk Sulaiman adalah salah seorang santri dari Sunan Giri.(***)

19 Agustus, 2009

Dibalik Rencana Pemekaran Luwu Raya

Bukan Euforia Reformasi, Sudah Menjadi Ideologi

"Ini bukan euforia reformasi. Kalau seumpamanya kita semua mati hari ini, maka anak cucu yang lahir di Tana Luwu pasti akan tetap melanjutkan perjuangan provinsi ini,"

EKA NUGRAHA
Palopo
(Fajar Edisi Juni 2009)


Kalimat itu terlontar dari mantan komite perjuangan Provinsi Luwu Raya tahun 2002, Baharman Supri, kamis 16 juli lalu. Dia menilai, perjuangan pemekaran Luwu Raya bukan lagi karena kepentingan kekuasaan. Perjuangan ini bahkan sudah menjadi ideologi rakyat Luwu. Sehingga, mau tidak mau, provinsi Luwu Raya sudah menjadi harga mati ribuan rakyat Luwu.

Menurut Baharman, banyak faktor yang membuat rakyat Luwu harus memperjuangkan pemekaran itu. Salah satunya adalah faktor etnis. Selama ini, kata Baharman, etnis Luwu tidak pernah dikenali di Sulsel, yang ada hanya etnis Bugis, Mandar, Makassar atau sebagainya. Padahal, Luwu juga merupakan salah satu etnis di Sulawesi Selatan.

"Ini juga sudah menjadi perjuangan etnis, kita harus memperjelas etnis kita, caranya dengan memperjuangkan provinsi Luwu Raya ini," kata Baharman.

Baharman mengatakan, perjuangan pemekaran Luwu Raya sebenarnya telah dilakukan sejak zaman kerajaan. Pada fase ini, perjuangan rakyat Luwu terhambat pada kepentingan Gubernur Sulsel.

"Saat itu hampir semua anggota kepanitiaan pemekaran Luwu raya yang terdiri atas PNS dan anggota Dewan di pindah tugaskan. Bahkan beberapa diantaranya di pecat," kata baharman.

Fase selanjutnya adalah fase dimana Tana toraja hendak bergabung dalam pemekaran provinsi Luwu raya. Pemekaran provinsi Luwu saat itu terhambat karena beberapa tokoh masyarakat utamanya tokoh islam tidak menerima Tana toraja sebagai bagian dari provinsi Luwu raya.

Terakhir, adalah fase pemerintahan sekarang. pada fase ini, selain karena kendala administrasi yang berubah-ubah, beberapa kelompok elit politik seTana Luwu belum sepenuhnya mengambil sikap. Hal itu dibuktikan dengan tidak adanya rekomendasi yang dikeluarkan dari kabupaten Luwu Timur.

"Saya yakin, semua rekomendasi itu akan terbit, provinsi Luwu raya tinggal menunggu waktu," kata Baharman.

Momentum Politik

Baharman mengatakan, kebanyakan, revolusi suatu bangsa sebenarnya terwujud dengan menggunakan momen politik. Oleh karena itu, momen politik pemilihan gubernur 2012, bisa dijadikan momen pemekaran provinsi Luwu raya.

"Makanya, pemekaran Luwu tengah saat ini menjadi fokus untuk memenuhi persyaratan administratif," jelasnya.

Dengan terbentuknya Luwu Tengah, berarti secara administratif Provinsi Luwu raya sudah terpenuhi. Sekarang, rakyat Luwu tinggal memilih siapa Gubernur yang terpilih nanti yang mau membantu perjuangan Luwu raya. Menurutnya, kalau memang momen ini bisa berhasil, berarti perjuangan Rakyat Luwu untuk mewujudkan provinsi Luwu raya genap setengah abad.

Selain itu, kata Baharman, seperti perjuangan revolusi di bangsa lainnya, pemekaran Luwu raya juga membutuhkan tokoh aktor revolusi. Tokoh inilah yang menjadi ujung tombak perjuangan provinsi Luwu raya.

Lalu siapa yang layak menjadi tokoh itu? "Saya kira yang layak sekarang adalah Bupati Luwu utara, Luthfi, bisa dibilang dia memiliki hampir semuanya, mulai pengikut, jaringan dan karakter ketokohan," jelasnya.(**)

17 Agustus, 2009

Melirik Sejarah Monumen 23 Januari

Awal Perjuangan Rakyat Luwu

Sebuah monumen berdiri kokoh di depan istana kerajaan Luwu. Monumen itu bernama Monumen 23 Januari-1946.





EKA NUGRAHA
Palopo (Fajar, Edisi 21 Juli 2009)


Istana kerajaan Luwu memang menyimpan banyak sejarah perjuangan rakyat Luwu melawan penjajah. Arsitektur Belanda pun melekat pada pada istana tertua di Sulsel ini.
Pasalnya, istana itu memang didirikan saat Belanda menjajah Indonesia. Sebuah miniatur istana yang dulu (disebut Langkanae) juga didirikan di samping Istana Luwu tersebut.

Pada zaman Belanda, kota Palopo adalah pusat
pemerintahan Kedatuan Luwu, oleh karena itu istana
kerajaan tertua di Sulsel ini berada di jantung kota ini.
Sebuah papan nama bertuliskan "Istana datu Luwu, Datu
Luwu palace, anno: 1920" terpajang jelas di bagian depan
kompleks istana ini. Papan nama tersebut menandakan
istana itu pernah di bangun oleh Belanda sekira tahun
1920 (kata Anno: 1920, mendandakan bangunan buatan
Belanda tahun 1920)

Di dalam kompleks istana, terdapat monumen Perjuangan
Rakyat Luwu, berupa badik yang terhunus ke langit
dengan tulisan “Toddopuli Temmalara”. Selain itu, ada
juga tulisan "23 Januari-1946". Pasalnya, 23 Januari 1946,
adalah tanggal perjuangan rakyat kawasan timur di
Indonesia, yang di mulai dari istana kerajaan Luwu.

"23 Januari itu adalah simbol perjuangan bagian timur
Indonesia, titik perjuangannya ada di kerajaan Luwu, dan
dipimpin oleh datu Andi Djemma," kata seorang Pakkateni
Ade' (setingkat mentri di kerajaan Luwu), Opu Andi
Nyiwi, Senin 20 Juli kemarin.

Menurut Andi Nyiwi, perjuangan rakyat Luwu melawan
penjajah saat itu berpusat di istana kerajaan. Namun,
pecahnya perang terjadi di kecamatan Bua, kabupaten
Luwu. Perang tersebut dipimpin oleh pemimpin revolusi
rakyat Luwu, Andi Djemma, yang sekaligus saat itu adalah
raja Luwu

Lebih jauh, kata "Toddopuli Temmalara" bermakna "apa
yang diucapkan, harus dilakukan,". Saat itu, kata tersebut
memberikan makna kalau perjuangan rakyat Luwu harus
sesuai dengan kata hati. Kalimat ini juga sering di
analogikan dengan semboyan perjuangan Indonesia;
"merdeka atau mati". Inilah yang menjadi semboyan
perjuangan rakyat Luwu sampai sekarang ini.

"kata ini harus tertanam di jiwa generasi muda rakyat
Luwu, ini adalah semboyan tetua kita dahulu," kata Andi
Nyiwi.

Hal serupa juga dibenarkan oleh ketua Legiun Veteran
Palopo, Andi Baso Rahman, Senin 20 Juli kemarin.
Menurutnya, awal perjuangan rakyat Luwu adalah tanggal
23 Januari itu. Sedangkan puncak perjuangan itu adalah
perjuangan yang bernama Masamba Affair di Luwu Utara.
Sayangnya, dia tidak tahu pasti kapan monumen itu
terbangun.

Lebih jauh, Baso Rahman mengatakan, setiap 23 Januari,
tiga kabupaten dan satu kota se tana Luwu akan
memeringati perjuangan itu. Perayaannya dilakukan secara
bergiliran di tiga kabupaten dan satu kota tersebut.

"kalau tidak salah, tahun depan kita akan rayakan di
Kabupaten Luwu," kata Andi Baso Rahman.

Pernah juga ada mitos yang menyebutkan, kalau badik
yang terhunus ke langit pada monumen ini harus ditutup
dengan 'Pajung' (Payung). Pasalnya, hal itu dilakukan
supaya tidak menyebabkan adanya pertikaian lagi di Tana
Luwu.

Andi Nyiwi yang dikonfirmasi terkait hal itu membantah
mitos tersebut. Menurutnya, itu adalah monumen biasa
untuk memeringati perjuangan rakyat Luwu.

Namun, dia juga membenarkan, kalau badik yang terhunus
tersebut pernah diselimuti dengan kain. Tujuannya hanya
untuk memeringati perjuangan rakyat Luwu, sekaligus
sebagai simbol menyatunya rakyat Luwu.

"Memang ada cerita seperti itu, tapi itu tidak benar, saat
itu kita selimuti hanya sebagai simbol perdamaian,"
jelasnya.(**)

20 Juli, 2009

Mengupas Sejarah Lambang Daerah Luwu

Keris Bungawaru, Titipan dari Langit

"Saya tidak tahu itu Dek, karena saya baru bertugas di tempat ini,"

EKA NUGRAHA
Belopa


Itulah sepenggal kata yang terlontar Kepala Dinas pariwisata Kabupaten Luwu, Yusuf Romon saat ditanya tentang nama pembuat lambang daerah kabupaten Luwu. Pria paruh baya ini berusaha menggunakan usia jabatannya sebagai alasan ketidaktahuannya tentang nama pembuat lambang daerah kabupetan Luwu.

Bahkan, dinas yang bertugas mengurusi kebudayaan daerah ini juga tidak memiliki dokumen tentang lambang daerah itu. Yang ada hanya makna dari gambar tersebut. Yusuf kemudian menyarankan saya ke bagian Pemerintahan kabupaten luwu.

"Coba ke bagian pemerintahan, biasanya dia yang tahu secara detail hal itu," kata Yusuf.

Dibagian pemerintahan, saya tidak menemukan satupun dokumen tentang pembuat lambang itu. Hal serupa juga terjai di bagian hukum. Tidak pernah ada perda yang ciptakan untuk asal mula lambang daerah itu.

"Kalau makna lambangnya ada, tapi kalau sejarahnya, tidak ada," kata Kepala Bagian Hukum Pemkab Luwu, Baso Malarangeng.

Titik terang sejarah lambang daerah itu mulai muncul saat saya bertemu dengan salah seorang Pegawai senior di tempat itu. Namanya, Alim Bachri. saat ini, dia menjabat sebagai staf ahli Bupati Luwu bidang hukum dan politik.

Menurut Alim, diperkirakan lambang daerah itu di buat sekitar tahun 1946. Saat itu, Indonesia baru saja lepas dari penjajahan Jepang. Pada masa itu, Luwu belum merupakan wilayah kabupaten. Namanya masih menggunakan istilah Swapraja Luwu ---pemerintahan awal daerah yang ada di Luwu---. Swapraja Luwu saat itu dipimpin oleh Andi Djemma.

Sekira tahun 1946, Presiden RI pertama, Soekarno memanggil Andi Djemma ke istana negara. Tujuannya untuk merubah wilayah Swapraja menjadi kabupaten. Saat itulah, Luwu resmi menjadi wilayah kabupaten yang dipimpin oleh Andi Djemma.

"Kemungkinan, lambang daerah tersebut dibuat saat itu," kata Alim.

Sayangnya, Alim tidak tahu pasti siapa nama pembuat lambang daerah tersebut. Menurutnya, pembuat lambang itu diperkirakan salah satu orang dekat Andi Djemma.

"Saya tidak tahu persis, bisa jadi dia adalah salah satu orang dekat beliau (Andi Djemma)," kata Alim

Hal tersebut juga dibenarkan oleh seorang Pakketeni Ade' (Setingkat Mentri di Kerajaan Luwu), Andi Nyiwi Opu Daeng Mallongi. Saat ditemui di istana Luwu (sekarang Museum Kota Palopo), Rabu 15 Juli Kemarin, Andi Nyiwi mengatakan, pemimpin revolusi Kerajaan luwu, Andi Djemma memang pernah di panggil ke istana negara oleh Soekarno. Saat itu, dia bertemu dengan Soekarno bersama dengan raja Gowa dan raja Bone.

Saat ditanya tentang makna lambang itu, Andi Nyiwi mengatakan, lambang itu memiliki makna yang tersirat. Simbol keris yang ada di bagian tengah lambang itu menandakan ke sakralan kerajaan Luwu. Keris itu sebenarnya bernama keris Bungawaru. Keris ini diyakini adalah keris pemberian dari langit.

"Itu keris Bungawaru, rakyat Luwu yakin keris itu pemberian dari langit," kata Andi nyiwi.

Andi Nyiwi mengatakan, saat ini keris itu sudah tidak ada lagi di Indonesia. Pengurus kerajaan meyakini keris itu di curi Belanda saat hendak meninggalkan tana Luwu.

"Mungkin keris itu masih ada di Belanda, yang jelasnya tidak ada di Indonesia," katanya.

Lebih jauh, Andi Nyiwi mengatakan, lambang payung berwarna putih tersebut adalah lambang kerajaan Luwu sejak awal. Maknanya adalah kerajaan Luwu sangat melindungi seluruh warganya.

"Itu lambang payung, dari dulu lambang itu sudah digunakan di kerajaan Luwu," jelasnya.(nugie.fajar@gmail.com)

05 Juli, 2009

Pembuat Lambang Daerah Kota Palopo;Ahmad Yakdir

Terinspirasi dari Kata "Pallopo"

Lambang daerah, tentunya memiliki usia yang sama dengan daerahnya. Hal serupa juga berlaku di Palopo, tepat Kamis 02 Juli lalu, lambang daerah kota Palopo genap berusia tujuh tahun. Siapa pembuat lambang ini?

EKA NUGRAHA
Palopo

Pembuat lambang daerah kota palopo itu bernama, Ahmad Yakdir. Sekarang dia mengabdi di kantor balaikota Palopo dengan status sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Jabatannya sekarang adalah staf bagian umum Pemkot Palopo. Tidak sulit untuk bertemu dengannya. Cukup sebut namanya di ruang bagian Umum, dan pegawai pun akan mengantarkan Anda ke meja kerjanya.

Saat saya bertandang ke ruangannya, Senin 29 juni, pria ini tampak sibuk dengan menyelesaikan pekerjaannya. Namun, dengan ramah dia mempersilahkan saya duduk di samping kursinya.

Yakdir mengatakan, awalnya dia membuat lambang itu dari minat untuk mengikuti sayembara logo saat kota Palopo baru saja terbentuk. Saat itu, Yakdir belum berstatus sebagai PNS di Pemkot Palopo. Dari ratusan desain lambang yang mendaftar, desain milik Yakdir akhirnya terpilih kedalam tiga besar desain lambang yang terbaik. Ironisnya, dewan juri saat itu tidak bisa menetapkan desain lambang terbaik dari ketiga desain lambang itu.

"Dewan juri saat itu saling ngotot kalau desain-desain itu semua cocok untuk menjadi lambang daerah Palopo. Padahal yang akan menjadi lambang kan hanya ada satu," kata Yakdir.

Kondisi seperti itu akhirnya membuat dewan juri untuk meminta petunjuk dari walikota Palopo, HPA Tenriadjeng. Hasilnya, Tenriadjeng erekomendasikan kepada Yakdir untuk membuat lambang daerah baru. Syaratnya, harus memadukan tiga lambang itu.

"Saya juga tidak tahu kenapa beliau (Tenriadjeng) merekomendasikan kepada saya?" tanya Yakdir.

Yakdir menambahkan, memang pada dasarnya dia yang mendesain ulang lambang daerah itu. Namun, secara khusus, ide gambar itu sebenarnya perpaduan dari tiga desain yang berhasil lolos sebagai desain terbaik saat itu. Sayangnya, Yakdir lupa siapa dua orang pebuat desain logo lainnya.

Lebih jauh, Yakdir mengatakan, sebelum membuat desain lambang tersebut, dia harus mencari referensi pustaka. Yakdir mengaku menyisihkan waktu selama sebulan penuh untuk mencari referensi itu. Hasilnya, sebanyak 11 referensi berhasil terkumpulkan. Salah satu diantaranya adalah buku berjudul "sejarah budaya Luwu".

Dari referensi itu, Yakdir kemudian mengambil logo Masjid Jami' --masjid ini merupakan masjid tertua di Palopo--. Berdasarkan dari salah satu versi dari referensi itu menyebutkan kalau kota Palopo berasal dari kata "Pallopo" yang artinya "menancapkan". Kata ini diperkirakan muncul saat pemancangan pertama tiang masjid. Pemancangan tersebut diperkirakan terjadi apda tahun 1604 M.

"Itu salah satu versi yang menyebutkan asal-usul kota Palopo. Masih banyak versi lainnya, tapi saya lebih memilih versi itu," kata Yakdir.(**)

21 Maret, 2009

Mengenang Metropolitanku Tempo Doloe

Gouverneurslaan di Jalan Balaikota
PUSAT pemerintahan modern pertama di Makassar berawal dari Jalan Balaikota. Jalan ini menyimpan banyak bukti sejarah pemerintahan Makassar dari tahun ke tahun.

EKA NUGRAHA, Ujungpandang,
(Fajar Edisi 21 Maret)

JALAN Balaikota sangat banyak menyimpan sejarah pemrintahan di Makassar. Pusat pemerintahan pertama di kota daeng ini berawal dari jalan ini. Beberapa gedung di jalan tersebut menjadi saksi bisu pemerintahan Makassar dari akhir abad 19 hingga awal abad 21.
Dulu, Jalan Balaikota dikenal sebagai "gouverneurslaan te Makassar" atau pusat pemerintahan Makassar. Jalan ini bahkan sudah ada sebelum Makassar dipimpin seorang walikota.
Kepala Museum Kota Makassar, Andi Ima Kesuma Indra Chandra, mengatakan, pada tahun 1918, Makassar resmi memiliki walikota pertamanya. Dalam istilah Belanda saat itu, kata walikota disebut "burgemeester". Dalam pemerintahan saat itu, walikota juga berfungsi sebagai Dewan Kota atau Gemeenterad. Dewan kota ini berfungsi untuk sebagai pengatur pemerintahan.
Dari sini, Makassar lama, hasil bentukan pemerintah Kolonial Belanda hadir dengan kelengkapan birokrasi pemerintahan. Pasalnya, Makassar lama sebagai sebuah kota baru dengan kekuasaan baru itu sempat menjadi ancaman pemerintahan Kerajaan Gowa yang mulai kehilangan pengaruh.
Walikota Makassar pertama saat itu bernama JH Damrink. Kantor Walikota juga terletak di jalan itu. Saat itu kantor walikota bernama Betrokken Radhuis. Saat ini bekas kantor walikota pertama menjadi Museum Kota Makassar.
Di tahun 1918, perkembangan Makassar sangat pesat. Beberapa bangunan untuk fasilitas publik mulai dibangun. Termasuk tempat-tempat peribadatan. "JH Damrink juga membangun gedung kesenian, saat ini gedung itu bernama Societed de harmonie," tambah jelas Ima.
Untuk mengatasi dan mengendalikan laju perkembangan kota, pada tahun yang sama, pemerintahan JH Damrink mengeluarkan aturan bernama Bouw en Woonverordening voor de Gemeente Makassar. Aturan tersebut berisikan zonasi Makassar.
Makassar dulu akhirnya terbagi dalam enam distrik. Ke enam distrik tersebut yakni Makassar, Mariso, Melayu, Ujung Tanah, Wajo, dan Ende yang masing-masing dikepalai oleh seorang "kapitang". Keenam distrik ini juga berpusat di Jalan Balaikota. (*)

08 Maret, 2009

Caleg Dalangi Balapan Liar

MAKASSAR -- Ada saja yang dilakukan oleh para calon Legislatif untuk kampanye. Menurut juru bicara kepresidenan, AA Malarenggeng, kampanye terbagi atas tiga ciri khas. Yaitu kampanye program, kampanye dangdut, atau black kampanye. Namun, lain halnya yang dilakukan oleh Muhammad Darwis Arifin, seorang caleg dari salah satu partai pemilu 2009. Caleg ini menggunakan media balapan liar untuk kampanye.
Terbongkarnya hal ini terungkap saat polisi gabungan dari Polresta Makassar Barat dan Polsekta Makassar menjaring puluhan sepeda motor dalam razia yang digelar Selasa malam, 20 Januari. Puluhan sepeda motor tersebut tertangkap saat ikut aksi bali di Jalan Veteran Utara.
Sepeda motor itu ditangkap setelah polisi melakukan pengejaran. Beberapa sepeda motor ditemukan di sebuah bengkel balap bernama PPD Racing Team Makassar.
Bengkel tersebut adalah milik seorang caleg bernama Muhammad Darwis Arifin.
Kepala Polsekta Makassar, Ajun Komisaris Polisi Saiful, mengatakan, polisi melakukan penyisiran terhadap pelaku balapan liar setelah mendengar informasi dari warga tentang balapan liar yang didalangi seorang caleg.
Menurut Saiful, saat polisi melakukan penyisiran, beberapa sepeda motor melaju kencang ke kediaman Darwis di Lorong 41 Jalan Veteran Utara.
Setelah dilakukan pengecekan di rumah Darwis, ditemukan puluhan sepeda motor dengan mesin yang masih panas. Diduga beberapa sepeda motor di antaranya sudah digunakan untuk balapan liar.
"Setelah anggota saya melakukan pengejaran, beberapa motor langsung masuk ke rumah Darwis," kata Saiful.
Pemilik Bengkel, Darwis, berdalih bukan dalang bali. Menurut dia, sepeda motor tersebut sedang dipanaskan untuk persiapan balapan resmi di Parepare. Dia juga merasa keberatan atas tindakan polisi yang berani menggeledah bengkelnya.
"Anak-anak saya sedang memanaskan mesin saat itu untuk persiapan balapan di Parepare nanti," kata Darwis.
Saat ini, puluhan motor tersebut sedang diamankan oleh Polresta Makassar Barat. Sedangkan Darwis akan dipanggil untuk dimintai keterangan mengenai aksi balapan liar itu. (m13)

04 Maret, 2009

Turun Temurun Membuat Gigi Palsu


DARI kakek turun ke ayah. Setelah ayah, giliran sang anak yang berkarya. Semua demi gigi.

EKA NUGRAHA, Ujungpandang

DI Jalan Lompobattang, terdapat sebuah bangunan berlantai dua. Di bagian depan, terpajang sebuah billboard bergambar susunan gigi. Bagian bawah gambar itu tertulis "Tukang Gigi Gaya". Itulah pengrajin gigi palsu milik Alferd.
Saat saya mampir ke tempat itu, Alferd sementara beristirahat di meja kerjanya. Tumpukan gigi palsu, beberapa botol bahan kimia dan peralatan kerjanya berhamburan di atas meja.
Alferd adalah Tionghoa yang telah 20 tahun menjadi pengrajin gigi palsu. Pasien yang telah ditanganinya juga sudah mencapai angka ratusan orang. Mau atau tidak, seiring dengan bertambahnya usia, gigi perlahan-lahan akan gugur satu per satu. Dengan gugurnya gigi itu, pasti akan berdampak terhadap bentuk wajah.
Menurut Alferd, pentingnya gigi sangat menunjang beberapa fungsi. Di antaranya fungsi bicara, pengunyahan, dan estetika wajah. Di tangan Alferd, gigi yang telah ompong dapat dikembalikan dengan menggunakan gigi palsu. Gigi tiruan yang bentuk dan penampilannya benar-benar menyerupai gigi sesungguhnya. Sehingga ketiga fungsi tadi akan kembali seperti sediakala.
Alferd mengatakan, ilmu membuat gigi palsu adalah turunan dari leluhurnya. Awalnya, dia mempelajari ilmu tersebut dari ayahnya. Sedang sang ayah belajar dari kakek Alferd.
"Kalau bapak saya bekerja seperti ini selama 40 tahun. Sampai beliau meninggal dia masih menekuni profesi ini," kata Alferd, 25 Februari lalu.
Saat diminta mendetail mengenai bahan pembuatan gigi palsu tersebut, Alferd enggan bercerita banyak. Menurut dia, beberapa bahan kimia dari gigi palsu itu berbahasa kedokteran.
"Kalau bahan dasarnya; kapur dan gift. Untuk bahan cair pakai bahasa kedokteran, nanti saya salah menyebutkannya," dalih dia.
Proses awal pembuatan gigi palsu butuh sample gigi asli. Itu dilakukan untuk membuat mal gigi palsu. Waktu pengerjaannya hanya satu hari. "Seperti orang yang membuat baju, ukuran bajunya, terus dicetak," kata Alferd. (*)

10 Februari, 2009

Alih Profesi,, Security Bank Dibekuk

TAK puas bekerja sebagai sekuriti atau petugas keamanan di salah satu bank pemerintah di Makassar, Ahmad Hidayat, 25, pun mencoba peruntungan baru. Sayangnya, "pekerjaan" tambahan yang dipilih Ahmad tidak positif. Dia memilih judi.
Polisi yang sudah beberapa minggu curiga terhadap Ahmad terus membuntuti pria itu. Hasilnya, Sabtu malam, 7 Februari, Ahmad diciduk di sebuah kamar kos sedang asyik bermain judi.

Selain Ahmad, polisi juga membekuk dua mahasiswa masing-masing bernama Wawan, 23, dan Muslimin, 20. Satu pejudi lainnya tidak punya pekerjaan tetap
Di tangan para pejudi, polisi mengamankan barang bukti berupa uang tunai Rp 275 ribu, beberapa botol bir, dan sebilah badik. Saat diinterogasi, keempat tersangka mengaku berjudi hanya atas untuk bersenang-senang saja.

Kepala Satuan Reskrim Polresta Makassar Barat, Ajun Komisaris Polisi Ronald Sumigar, mengatakan penangkapan keempat tersangka judi bermula dari laporan warga yang resah lantaran ulah mereka.
Para pejudi dikenakan pasal 303 KUHP tentang perjudian. Mereka diancam dengan pidana penjara maksimal sepuluh tahun atau pidana denda maksimal Rp 25 juta. (m13)

04 Februari, 2009

"Manami Kesehatan Gratisnya...?"









"APAJI? Manami kesehatan gratisnya? Padahal sayaji yang dukungki dulu, tapi nakasi beginiji anakku di rumah sakit..."

EKA NUGRAHA, Tamalanrea

SEBARIS tanya itu meluncur deras dari mulut Nurlina, orangtua Muhammad Raihan. Anak Nurlina, Raihan yang baru sepuluh bulan tergolek lemas di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo. Dia menderita hidrocepalus atau peningkatan cairan otak.
Sudah seminggu ini Nurlina menunggu jadwal operasi kepala anak pertamanya itu. Namun, lagi-lagi kendala administrasi di rumah sakit menjadi penghambat operasi kepala raihan itu.
Keluarga Raihan masih berstatus penerima Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Namun, pihak rumah sakit tidak menerima jaminan dari Jamkesda itu. Terpaksa, Nurlina harus kembali mengurus Jamkesmas di Dinas Kesehatan Kota Makassar.
Sementara, kepala Raihan semakin hari terus membesar. Setiap hari mata Raihan ditutup dengan perban karena sudah tidak bisa tertutup lagi.
"Sengaja ditutup nanti untuk menghindari kemasukan debu," kata Nurlina.
Sudah beberapa hari ini, Raihan tidak lagi bersuara. Padahal dokter sudah berkali-kali menyuntik Raihan. Nurlina terpaksa memberikan Raihan susu setiap dua jam sekali.
"Dia (Raihan, red) sudah tidak pernah menangis lagi, padahal dia pernah disuntik. Kalau anak yang normal, pasti menagis kalau disuntik," kata Nurlina.
Saat di temui di Bangsal Lontara 3 Kamar III, mata Nurlina terus berkaca-kaca. Dia mengaku kesal. Menurutnya, hanya lantaran Jamkesmas, operasi anaknya yang membutuhkan Rp 11 juta itu terus tertunda.
Pada saat operasi pertama Raihan delapan bulan yang lalu, Nurlina mengaku tidak terlalu dipersulit. Karena saat itu, Raihan masih menggunakan Jaring Pengaman Sosial. Saat itu, belum ada istilah Jamkesmas dan Jamkesda.
"Kalau bisa diobati mi dulu anakku, nantipi menyusul Jamkesmas-nya karena sementara diurus mi ini," ujar Nurlina diiringi linangan air mata.
Nurlina juga mengatakan kalau anak pertamanya itu, sempat tertahan di Unit Gawat Darurat (UGD) RSWS selama dua hari tiga malam. Hal itu terjadi karena Raihan telah melakukan scan kepala. Namun, Nurlina tidak mampu membayar biaya scan yang bernilai Rp 450 ribu itu.
Uluran tangan dermawan terus mengalir untuk Raihan. Tiga hari lalu, seorang dermawan yang menolak membuka identitas dirinya menyumbang Rp 15 juta demi kesembuhan Raihan. Semoga, masih banyak dermawan-dermawan misterius seperti itu di sekliling Raihan. (*)

19 Desember, 2008

Standby Meski Tidak Ada Jemaah


MENUNGGU, bagi banyak kalangan adalah pekerjaan yang sangat membosankan. Apalagi yang ditunggu kehadirannya belum jelas kapan tiba. Hal serupa juga dialami oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Makassar. Apa aktivitas pejabat PPIH Makassar di sela-sela kedatangan jemaah tersebut?






Laporan : Eka Nugraha
Makassar

Ternyata tidak hanya penjemput jemaah yang bisa berharap-harap cemas menunggu kedatangan jemaah. Di setiap personel PPIH Makassar pun juga terjadi hal yang sama. Seperti yang terjadi pada Senin malam. Saat menuggu kedatangan jemaah kloter 3 dan kloter 4 yang waktu kedatangannya juga tidak jelas.

Waktu saat itu menunjukkan 20.30 Wita. Informasi kedatangan kloter 3 yang dijadwalkan tiba pada pukul 18.05 Wita ternyata juga masih belum jelas. Berdasar dari informasi dari petugas Daerah Kerja (daker) Jeddah pesawat yang digunakan untuk kloter 3 terpaksa terlambat (delay) 12 jam atau pada saat ini berada pada ring A3.

OLeh PPIH Makassar waktu luang 12 jam tersebut ternyata diisi dengan kegiatan lain sembari menunggu. Di Bidang Keamanan misalnya, beberapa petugas kepolisian dan petugas Penjinak Bahan Peledak (Jihandak) bersantai sembari bersenda gurau dengan PPIH yang lainnya di Area Asrama.

Pemandanagan serupa juga tampak pada Koordinator Bidang Keamanan Asrama Haji Sudiang, Kompol Aidil Rachman. Petugas kepolisian yang mengaku pernah mengikuti pelatihan Public Relation ini memilih untuk beristirahat di Cafe Informasi sambil menunggu informasi terakhir penerbangan. " Meski terlihat santai, tapi kami tetap siaga," kata Aidil.
Menurut Aidil, anggotanya telah mertugas sesuai sif yang telah ditetapkan. Jadi ada atau tidak ada jemaah mereka tidak boleh meninggalkan Asrama.

Berbeda dengan petugas informasi jemaah Haji. Para petugas di ruang informasi terpaksa tidak boleh meninggalkan ruangan. Hal tersebut dilakukan karena setiap saat informasi dan koordinasi antara PPIH selalu berpusat pada ruangan tersebut. Petugas informasi haji terpaksa banyak menghabiskan waktu di ruang berukuran 20 meter persegi tersebut.
" Tidak boleh ditinggalkan, nanti ada orang yang menelepon mau tanya informasi kedatangan terus tidak ada orang bagaimana?" kata Tasrib Tajuddin, petugas PPIH.

Hal serupa juga tidak jauh berbeda dengan petugas Triple D. Petugas yang sering dijuluki "Pasukan Orange" ini ternyata tetap standby di pos mereka masing masing. Puluhan petugas Triple D bahkan masih menggunakan seragam warna Orangenya. Beberapa Handy Talky (HT) juga masih melekat ditangan mereka.

Koordinator Trille D Johamzah mengatakan meski jemaah tidak ada, para petugas tersebut tetap standby. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari kemungkinan membeludaknya penjemput jemaah.
"Harus tetap Standby dong, jangan sampai penjemput membludak," kata pria berpostur tinggi besar ini.

Hal yang sama juga terjadi untuk security Asrama haji, Koordinator Security Asrama Haji, Jusuf Basir mengatakan, selain standby di setiap wisma, pada waktu tertentu, petugas Security selalu berkeliling di asrama.

Sementara itu, di ruang Sistem komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat), tampak berbeda. Saat Fajar datang keruangan tersebut tidak tampak seorang pun petugas Siskohat. Yang tampak hanya beberapa unit Komputer yang tidak dimatikan.

Salah seorang petugas yang namanya enggan dikorankan mengatakan, petugas Siskohat saat itu sedang keluar untuk mencari makan.
" Mungkin mereka lagi keluar untuk mencari makan, karena ruangan ini tidak terkunci. Sebentar lagi mungkin sudah ada," kata pria tersebut.(*)

13 Desember, 2008

Anti Balapan Liar, Andalkan Brotherhood

BROTHERHOOD. Ketua Umum STC, Bro Anto, sedang melihat Suzuki Thunder yang telah dimodifikasi oleh PT SGP. Motor ini akan dilelang pada saat pelaksanaan Thunder Party. Gambar direkam Sabtu 13 Desember









Brotherhood begitu kental di benak pecinta sepeda motor. Dalam bahasa Indonesia, Brotherhood berarti persaudaraan. Kata Brotherhood bukan sekadar kalimat bagi bikers. Sebab bagi mereka, karena persaudaraan-lah sehingga komunitas pecinta motor rela menembus hujan dan jarak ratusan kilometer.


Laporan
Eka Nugraha
Makassar

Sabtu, 13 Desember, siang kemarin, di Mall Ramayana Jl AP. Pettarani. Cuaca tidak panas. Malah sebaliknya mendung. Beberapa saat kemudian, hujan pun mulai turun membasahi aspal di tempat itu. Di tengah siraman hujan, puluhan lelaki dengan kostum yang cantik-cantik tampak setiap menjaga motor mereka.Motor mereka jenis motor sport 125 cc.

Ya, mereka itu para bikers Thunder Club. Siraman hujan tak membuat mereka beranjak. Niat para Bikers Thunder Club itu tak surut untuk melaksanakan acara Thunder Party. Acara ini digelar Suzuki.

Para bikers yang mengenakan baju klub masing-masing ini ternyata tidak hanya dari Makassar. Beberapa di antaranya dari Kabupaten Bulukumba, Enrekang, serta Bone. Mereka sengaja ke Makassar untuk bergabung dengan komunitas pecinta motor Thunder lainnya.

Ketua panitia Thunder Party yang juga Supervisor Event Promosi PT SGP Makassar, Anusa Pawan mengatakan, sebanyak 11 club Suzuki Thunder hadir dalam acara ini. Jumlah motor yang berkumpul di tempat tersebut tak kurang dari 600 motor. "Club mereka terdiri dari beberapa chapter (bagian, red). Chapter tersebut tersebar di Sulawesi Selatan. Bahkan ada yang dari Kendari," kata Anusa saat ditemui di sela-sela acara Thunder Party, kemarin.

Anusa menambahkan, acara ini bertujuan meningkatkan rasa persaudaraan antarsesama bikers. Selain itu, acara ini juga bertujuan mensosialisasikan bagaimana keamanan berkendara (safety riding) dan tertib berlalu lintas. Ketua umum Suzuki Thunder Inovation Club (STIC) Sulawesi, Hasanuddin Tiro mengatakan, saat acara ini berlangsung, beberapa chapter dari STIC tengah dalam perjalanan. Chapter tersebut berasal dari Bulukumba dan Soppeng. Meski hujan, menurut Hasanuddin, anggota STIC tetap melanjutkan perjalanan.

"Yang namanya biker tidak mengenal hujan. Biar hujan tetap jalan," kata Hasanuddin

Hasanuddin menjelaskan, keberandaan club pecinta motor sangat diperlukan. Khususnya untuk sosialisasi tertib berlalulintas. Untuk anggota bikers STIC sendiri, katanya, setiap saat dilakukan pengkaderan. Setiap anggota baru harus melalui pengkaderan. Pengkaderan ini dilakukan bekerjasama pihak Polresta Makassar Barat. Tak heran jika setiap anggota yang telah lolos pengkaderan diberikan stiker bertuliskan "Badai Barat". Stiker ini sekaligus pertanda bahwa yang bersangkutan telah lolos bergabung dan tahu tentang aturan berlalulintas.

Ketua Umum Sulawesi Thunder Club (STC), Ardianto juga mengungkapkan hal senada. Menurutnya, hanya karena perasan persaudaraan, beberapa anggota clubnya rela diguyur hujan dalam perjalanan Bone menuju Makassar.

Pada kesempatan itu, Anto menegaskan, STC juga merupakan club pecinta motor yang anti balapan liar. Menurut Anto, balapan liar merupakan pelanggaran berat dalam berlalulintas. " Untuk balapan liar, kami paling anti," tegas Anto.(*)

12 Desember, 2008

Bukan golongan Speed rider

harian Fajar Edisi Sabtu, 13 Desember

DI jalan tanpa sengaja melihat logo BMC dengan sayap kembarnya, maaf, itu bukan lambang atau merek produk pulpen. BMC itu adalah sekumpulan pecinta sepeda motor sport yang tertib berlalulintas.

Laporan
Eka Nugraha
Ujungpandang


BAJAJ Motor Club (BMJ). Itulah kepanjangan dari BMC, suatu komunitas pecinta motor sport yang diproduksi dari negara kelahiran Mahatma Gandhi, India. Meski baru dideklarasikan pada 18 Agustus lalu, komunitas ternyata mempunyai visi untuk mendukung ketertiban berlalulintas di Makassar.
Saat saya bertandang ke sekretariatnya di Jalan Muhtar Luthfi, tepatnya di samping Adira Cafe, Ketua Umum BMC, Muhammad Ishak Kalia, baru saja merapikan meja kantornya. Beberapa anggota BMC pun tampak sedang bersantai di ruangan dengan warna dinding cokelat susu tersebut. Menurut Ishak, saat ini kesadaran masyarakat Makassar tentang tertib berlalulintas masih perlu dipermantap. Oleh karena itu, syarat utama untuk masuk kedalam komintas ini adalah mengetahui peraturan lalulintas yang ada. Syarat tersebut merupakan mutlak untuk bikers BMC yang bukan merupakan golongan speed rider.
" Syarat pertama harus tahu peraturan lalulintas, setelah itu syarat selanjutnya, punya Motor Bajaj, sehat jasmani dan rohani," kata Ishak, Jumat 12 Desember.
Sedangkan untuk biaya Administrasi, pengurus BMC tidak terlalu mempersulit calon anggotanya. Hanya dengan Rp50 ribu calon anggota yang mendaftar akan langsung menjadi anggota BMC. Selain itu, Helm standar dan atribut BMC berupa seragam dan stiker BMC sudah dapat di gunakan oleh setiap anggota yang telah mendaftar.
" Kalau belum punya uang, tidak apa-apa, daftarkan saja. Pada prinsipnya kami ingin punya banyak teman," kata Ishak.
Selain tertib belalulintas, Komunitas yang terdiri atas 80 personel ini juga rutin mengadakan kegiatan solidaritas. Bentuk kegiatannya bermacam-macam. Mulai dari pemberian kebutuhan pokok pada kaum dhuafa sampai membantu polisi untuk penertiban lalulintas di jalan yang macet. Pada 22 Desember nanti, BMC kembali mengadakan kegiatan sosial yag bertemakan "Donor darah BMC Care" yaitu kegiatan donor darah untuk masyarakat Makassar.
Sekretaris BMC, Muhammad Yunus, menambahkan, dalam kegiatan sosial tersebut, BMC selalu menyosialisasikan terhadap keamanan saat berkendara roda dua. Selain itu, kegiatan tersebut juga merupakan suatu bentuk upaya BMC untuk merubah image masyarakat terhadap bikers yang ugal-ugalan. "Kami sengaja melakukan hal tersebut untuk mendekatkan diri kepada masyarakat," tambah Yusuf.
Lebih lanjut, Yusuf juga mengatakan, Bikers BMC juga tidak boleh terlibat dalam balapan liar. Hal tersebut sudah menjadi komitmen anggota BMC. Sedangkan untuk balapan resmi, BMC belum memprogramkan hal itu.
Menurut Yusuf, kegiatan BMC hanya fokus untuk kegiatan solidaritas antar sesama anggota dan kegiatan sosial untuk masyarakat.
"Motor kami memang berteknologi tinggi, tapi bukan untuk balapan liar," kata Yusuf.
Untuk mempererat tali silaturahmi, komunitas ini mempunyai pertemuan terjadwal yang tidak bikin pusing anggotanya. Setiap Sabtu malam, anggota BMC berkumpul di Indira Cafe. Setelah berkumpul, anggota BMC kemudian berkeliling Makassar sekadar untuk menyapa komunitas bikers yang lainnya.
"Di luar hari itu, kalau ada waktu lowong, kami ke sekretariat,atau ngumpul di Adira Cafe," kata Yusuf. (*)

22 November, 2008

Nadi Hidup di Asrama Haji Sudiang

Sebelum berangkat menuju Bandara King Abdul Azis Jeddah, relaksasi sangat dibutuhkan jemaah. Stres dan segala beban pikiran dapat terobati dengan mengunjungi sebuah kantin, yang letaknya letaknya tepat di lantai dasar gedung informasi.

Laporan : Eka Nugraha
Sudiang

Kantin Informasi. Itulah nama kantin yang di kelola oleh Persatuan Dharma wanita Kantor Wilayah Departemen Agama Sulawesi Selatan. Kantin ini terletak tepat di lantai dasar gedung informasi, beberapa meja dengan taplak berwarna putih tertata rapi di kantin ini. Beberapa pilar penyangga gedung informasi menambah megahnya kantin ini.
Kantin yang dijaga oleh Husna dan Mariana ini setiap harinya buka dari pukul 07.00 sampai pukul 22.00 Wita. Lantunan musik religi dan sebuah televisi layar lebar semakin menambah kenyamanan dalam kantin. Udara segar dapat masuk tanpa hambatan pada setiap sisi kantin tanpa dinding itu.
Saat itu, cuaca mendung. Udara dingin menambah nikmatnya kopi susu yang saya pesan. Di dampingi secangkir kopi susu, Husna bercerita tentang kantin tersebut.
Menurut Husna, kantin itu telah lama berdiri. Namun, baru tahun ini di renovasi. Sebelumnya, kantin ini hanya menggunakan tenda darurat. Namun, pelayanan kepada pengunjung tetap prima.
Kebanyakan pelanggan yang datang adalah petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH). Sedangkan jemaah datang pada waktu tertentu, biasanya pada waktu usai melaksanakan salat lima waktu.
"Biasanya usai melaksanakan salat, sebelum ke wisma, mereka sering mampir ke sini, untuk minum kopi atau hanya sekadar menonton TV," ujar Husna.
Selama penerimaan Jemaah Calon Haji (JCH) gelombang pertama tahun ini, menurutnya JCH asal Maluku lah yang paling sering datang ke kantin itu. "Mereka (JCH asal Maluku-red) senang dengan ruangan yang terbuka, karena mereka merasa lapang dan bebas disini," kata Husna. (*)

09 November, 2008

Melawan Panas di Dinding Replika Kakbah

Hitam, Putih, dan Kuning, itulah warna garis yang terdapat pada replika Kakbah di Asrama haji Sudiang. Perpaduan tiga garis tersebut kemudian menjadi suatu bentuk karya seni lukis kaligrafi.

Laporan
Eka Nugraha
Makassar

SAAT itu waktu menunjukkan pukul 12.00 Wita, atau memasuki waktu Dzuhur, lantunan lafadz Alquran mulai terdengar sayup-sayup di masjid yang terletak dalam asrama haji. Selain itu, beberapa petugas juga tampak melakukan persiapan dan pembenahan asrama, derungan mesin pembabat rumput pun ikut memecah keheningan siang itu. Kira-kira seperti itulah kondisi Asrama Haji Sudiang mendekati H-1 kedatangan Jemaah calon Haji (JCH).
Hal serupa juga dilakukan oleh Ramli, seorang kaligraf, ahli penulis indah, yang bertugas untuk menuliskan sebait ayat Alquran pada replika Kakbah di Asrama Haji Sudiang. Replika Kakbah yang terletak di tengah-tengah asrama tersebut tampak megah dengan rangkaian huruf Alquran dalam seni kaligrafi ala Ramli.
Mahasiswa semester tujuh di Universitas Muslim Indonesia ini mengaku belajar menulis kaligrafi selama tiga tahun di Pondok Pesantren Abnauul Amiir Kabupaten Gowa. Hasil seni kaligrafinya pun tidak sedikit. Menurutnya, dia telah membuat setidaknya belasan hasil seni kaligrafi di beberapa masjid di luar Makassar, seperti Sidrap, Takalar, dan Gowa.
Ramli juga mengaku pernah membuat seni kaligrafi di mesjid Kantor Wilayah Departemen Agama Sulawesi Selatan dan beberapa kantor instansi pemerintahan.
Pria kelahiran Takalar ini mengaku, baru pertama kali membuat kaligrafi pada replika Kakbah. Replika yang berbahan dasar plat besi itu membuat Ramli kesulitan. Selain letaknya yang tinggi, panas matahari juga membuat suhu pada plat besi itu manjadi naik.
"Saya harus menggunakan kaos tangan untuk menulis supaya tidak tersengat panas di dinding Kakbah ," ungkap Ramli, Senin 03 November.
Untuk meyelesaikan kaligrafi itu, Ramli di beri upah sebesar Rp 2 juta oleh Kantor Wilayah Depag Sulsel. Pria yang juga sebagai imam mesjid di Kantor Kejaksaan tinggi ini, tidak mempersoalkan besar-kecilnya upahnya itu. Menurutnya, Asrama haji Sudiang telah banyak memberikan kontribusi ke Kampusnya. Sehingga dia tetap melaksanakan tugasnya dengan ikhlas.
"Saya tidak persoalkan masalah besar kecilnya upah, karena asrama telah berjasa banyak kepada UMI. Setiap penyambutan mahasiswa baru kami selalu diberikan kesempatan untuk menggunakan asrama dan fasilitasnya," ungkap Ramli.
Apalagi bagi Ramli membuat kaligrafi memiliki kebanggaan tersendiri. Selain untuk memperbanyak ibadah lewat bacaan Alquran, orang lain juga akan langsung menyanjungnya. Karena para kaligraf selalu mencantumkan nama dan tanggal pembuatan hasil karya seni itu yang juga di buat dalam bentuk tulisan kaligrafi.
Sayangnya Ramli enggan menuliskan namanya pada replika Kakbah yang saat ini di buatnya. Pasalnya, kaligrafi surah Ali Imran ayat 95-96 yang memiliki kandungan keutamaan Haji untuk orang yang mampu itu telah ada yang membuat sebelumnya.
"Yang saya tulis di situ hanya Hamba Allah, karena bukan saya yang membuatnya pertama kali, saya hanya merenovasi hasil kaligrafi itu," ungkap Ramli.
Tak terasa waktu mulai menunjukkan pukul 13.00 Wita, Dengan mengenakan kemeja lengan panjang, kaos tangan dan beberapa kaleng cat, Ramli bergegas melanjutkan pekerjaannya. Dia harus menyelesaikan kaligrafi di empat sisi replika Kakbah itu sebelum sore hari karena beberapa hari ini, hujan terkadang datang pada sore hari.(*)