19 Februari, 2010

Kabut Senja di Puncak Maindo

“Keindahan adalah apa yang dirasakan oleh jiwa, kepadanya Cinta diberikan. Bukannya diminta”

******

Oleh : Eka Nugraha






Siang itu . . . Udara panas kota Palopo, menyelimuti seluruh permukaan tanah yang sudah kering kerontang . Bercampur debu dan asap kendaraan, berterbangan menusuk paru paru ini. Aroma aspal panas pun menambah semarak runyamnya suasana.

Lama kuberkutat dengan ponselku , mencoba berbagi cerita dengan mantan kekasih yang jauh disana. Meski hal itu terlarang, aku tetap saja melakukannya. Tentunya hal ini mengurangi jatah waktuku untuk menge-pack barang-barang yang belum sempat kumasukkan dalam carriel. Tak mengapa bagiku. Karena Aku masih mencintai dia….

“Mana mi? sudah mau berangkat orang,…” begitu isi pesan singkat seorang kerabatku. Lalu, ku balas isi pesan itu; ”tunggu mi 5 menit lagi.” Tak lama, aku langsung menge-pack pakaian dan ransum yang telah kusediakan sebelumnya kedalam carriel ku. Kuambil helm, lalu kupacu motor traill pinjaman, milik seorang pejabat di Pemkot Palopo.

Akhirnya, aku tiba di rumah kerabatku yang mengirimkan pesan singkat tadi. Sebuah motor traill dan tas carriel, sudah standby di depan rumahnya. Asdhar nama kerabatku itu. Kami berniat untuk memenuhi undangan Bupati Luwu, Andi Mudzakkar merintis jalan yang menghubungkan kabupaten Luwu dengan kabupaten Toraja Utara. Rutenya; kami akan melintasi kecamatan Bua menuju desa Maindo, yang berada di kecamatan kecamatan Bastem. Tempat ini berbatasan langsung dengan kabupaten Toraja Utara.

Rute ini dinilai menjadi jalan alternatif menuju kabupaten Toraja Utara, setelah jalan yang menghubungkan kota Palopo dengan Toraja terputus akibat bencana longsor, 9 November 2009 lalu. Rute yang kami lalui ini dikabarkan memiliki pemandangan yang indah. Sayangnya, rute itu memiliki medan yang berat. Tak satupun kendaraan jenis mobil mampu menembus jalan itu.

Usai shalat Jumat, saya dan Asdhar bergabung bersama dengan sejumlah wartawan yang juga bertugas di wilayah Luwu Raya. Setalah siap, kami pun melanjutkan perjalanan.

Sore berlalu seiring keberangkatan kami . Udara dingin khas pedesaan menyambut suara deru motor yang kami kendarai. Menyusuri jalan berbatu yang sepi dan sedikit gelap ini. Jalan tanah dan terjal mulai menantang nyali. Sesekali, motor yang kami kendarai terpaksa harus melintasi sungai besar yang memotong jalan itu.

Hujan, tak mau kalah sore itu. Dengan tenangnya, dia mambasahi rute yang kami lalui. Meski sudah menggunakan jaket kulit, rasa dingin terus saja menghantam kulitku. Medan yang kami lalui semakin berat. Jalan yang jadi berlumpur semakin menghambat perjalanan. Semakin di gas, roda belakang motor kami semakin tenggelam. Terpaksa, motor itu diangkat atau didorong.

Kelelahan yang amat sangat , terpancar dari raut muka Asdhar. Butir butir peluh meleleh membasahi kening ,mata, dan sebagian telinganya . Nafas nafas berat yang tersengal terhambur dari tenggorokkan , melenting bak ayam yang baru saja tersedak akibat kerikil besar yang ikut termakan.

Tampak sedikit terlihat hembusan nafas Asdhar. Keluar melalui hidung dan mulutnya. Berbentuk gumpalan asap putih tipis yang menyebar dan cepat menghilang. Ku parkir motor traill ku yang penuh lumpur berwarna kuning itu. Lalu, kubaringkan badanku dibalai bambu, tempat Asdhar beristirahat.

* * * *

Tidak ada komentar: